Senin, 24 Juli 2017

Ketipu Tukang Bongkar Pasang dan Servis AC-Tomy

Awalnya saya mencari-cari dari olx. Tertarik dengan iklannya yang murah, saya menghubungi via telp. Orangnya agak jual mahal. Tukang AC memang kebanyakan menyimpan tarif-tarif siluman. 
Awalnya tarif bongkar pasang disepakati 250 rb. Sekitar 7 kilo dari lokasi pindah AC.
AC dibawa dengan sepeda motornya. Ketika proses pemasangan, plafon dijebol dan tembok di bobol untuk membuat lubang pipa outdoor. Tentunya si tukang AC ga bakalan mau mengembalikan kondisi seperti semula (menyemen dan mengecat lagi)
Kabel listrik hanya diambilkan dari kabel positif dan minus saja, TANPA kabel ground. Padahal kabel kuning (ground) jelas2 ada, namun si tukang (JOKO) bersikukuh bahwa kabel ground itu malah bikin kesetrum kalau unit outdoor di cuci. Saya dalam hati merasa geli saja.
Untuk stop kontak AC dibelikannya yang merk panasonic. Dia memasang tarif tersendiri untuk membaut dan menyambung kabel ini seharga 50 rb.
Bracket AC di pasang serampangan/kelihatan miring.
Pipa outdoor sepanjang +-8 meter ditekuk-tekuk di ujung unit outdoor karena terlalu panjang.
Lihainya si JOKO ini juga meminta untuk ditambah freon R32 seharga 150 rb. Saya tidak tahu bagaimana ia melakukan bongkar AC sehingga harus mengisi freon lagi.
selang 2 hari kemudian pipa outdoor bocor. Dia datang lalu mengisi freon R32 secara PENUH (istilah yang dia buat demikian) untuk mematok tarif lebih tinggi lagi yaitu 250 rb. Sungguh penipuan yang sangat HQQ. Dikira sekarang ini susah mencari info harga beli freon di pasaran. Cukup sekali klik sudah muncul banyak di google penjual tabung freon dengan harga miring.
Selanjutnya ada AC baru yang saya minta dipasang. disepakati tarif 150 rb. Saya buntuti terus dia ketika kerja. Terlihat dia berkeringat, terkadang dia meminta diambilkan aqua gelas, dugaan saya dia ingin mencoba-coba untuk melakukan tindakan curang ketika saya mengambil aqua.
Ketika proses pembukaan freon baru ke indoor, dia mengatakan : "begini cara memvakum", sembari memutar baut freon keluarlah gas selama +-1 menitan. Lalu ia dengan tangkas menunjukkan ukuran tekanan gas yang menunjukkan 40 Psi. Dan menunjukkan di ujung tembaga pipa outdoor ada embun air, lalu dia mengatakan : "ini terserah sampean, mau di tambah freon apa tidak?! resikonya tidak dingin loh!! "
Hach...!!! Sejak awal dia datang saya sudah bersikeras bahwa untuk pasang AC baru saya tidak akan pernah menambah freon lagi, entah itu alasan pipa outdoor terlalu panjang atau freon hilang ketika proses vakum. Bagi saya alasan itu tidak masuk akal. Buktinya ketika ada tukang AC yang berbeda, dia langsung saya suruh mengecek AC baru saya dan diukur ternyata tekanannya masih +-120 Psi !!! Aneh bin ajaib!! 
Ketika proses perbaikan, dia mengakui bahwa selama ini dia belajar dari youtube
Sungguh sebuah tipu muslihat yang nyata!
Waspada dengan tukang ini
Ini nomer telpon +62 851-0046-0615 sudah menyebar banyak di OLX, memorandum dan Jawapos 
Jangan sampai ketipu tukang-tukang semacam ini!!



Sabtu, 12 November 2016

Kecewa dengan Dokterr Ruman - UGD RSI

RSI A Yani
Sewaktu saya ke UGD, saya ingin periksa. Saya ingin langsung diinfus karena kondisi saya sudah lemas. Namun dr Ruman ini dengan pongah nya menyuruh saya untuk cek darah dulu. Saya tidak mau dua kali disuntik jarum!! Karena kondisi saya sudah lemah, panas sudah 38 derajat. Di RSI A. Yani beda dokter, beda persepsi.
Dilain waktu saya pernah dibilangi oleh seorang dokter bahwa tingkat kegawatan itu salah satunya adalah panas tubuh 38 derajat.
Nah Si Dokter muda yang bernama Ruman ini menyatakan kalau belum 39 derajat tidak boleh masuk/opname.
Dokter ini kelihatan bengis sekali karena nadanya yang tinggi!!Seolah tidak ada empaty sama sekali kepada pasien!!
Semoga dokter ini segera bertaubat dan memperbaiki dirinya. Saya doakan semua dokter semoga diberi kejernihan hati dalam menangani pasien. Amiin

Sabtu, 22 Oktober 2016

Pengalaman Operasi Bypass Jantung di RSUD Soetomo

Setelah proses caterisasi (percobaan pemasangan ring)ga bisa pasang ring, saran dokter adalah bypas. Definisinya kurang lebih memotong urat kaki ke urat jalur jantung yang tersumbat. Supaya suplai darah yang tersumbat dapat lancar kembali tanpa memotong urat yang tersumbat.
2 minggu sebelum operasi, pasien sudah disuruh masuk ruang IRNA Bedah. lalu mengurus askes supaya bisa dapat kamar. Setelah masuk IRNA bedah, pasien akan diperiksa oleh beberapa dokter spesialis, diantaranya : THT, Paru, gigi, gula. 2 yang pertama pasien dibawa ke poli ybs bersama2 petugas pendorong kursi roda. hari pemeriksaan tidak menentu, tergantung jadwal dari dokter ybs (saya kebetulan ditangani Prof Paul), bisa jadi 1 hari penuh tidak di apa2 kan, hanya menunggu dikamar. setelah seluruh dokter merapatkan apakah pasien layak di operasi. satu hari sebelum operasi, keluarga pasien di suruh cek stok darah di lt 5 gedung PDT tiket darah di lt 1 PDT, pasien diberi penjelasan oleh dokter anestasi dan bedah dan disuruh ttd kesediaan menerima resiko apapun. lalu pasien disuruh mencukur rambut kumis kebawah sampai kaki, karena akan diambil urat kaki, utk menghindari infeksi dari rambut.
jam 5 pagi ambil darah. bawa ke lt 4 ruang operasi GBPT. pasien dibawa jam 6. di suruh make baju selembar tanpa celana+baju bawaan. di lt ground, sdh Mnunggu semacam modin utk mendoakan pasien. sampai batas itu , penjenguk sdh tdk dapat bertemu pasien. jam 9 proses operasi dimulai. nampaknya byk antrian yang operasi, sepanjang yg terlihat ada sekitar 10 lebih ranjang yg tersedia. sampai pada jam 2 siang, keluarga diberitahu hasil operasi. lalu jam 4-5 sore wktu jenguk. keluarga dijelaskan kondisi pasien serta disuruh ke laboratorium IGD utk cek darah hsl transfusi dan ke farmasi lt 1 utk ambil resep.
klo pasien sdh sadar : 1. ambl nafas dlm tiup dlm2. 2. batuk2 dehem. 3.kaki di gerak2an.bantal di taruh d atas dada.

Pengalaman opname di RSI A. Yani, Bhakti Rahayu dan RSAL

masuk UGD di RSI utk kesekian kalinya, anak masuk UGD. tensi menunjukkan kisaran angka 37-39. setelah dibawa ke UGD RSI a yani, tensi menunjuk angka 37. Menurut dokter jaga tidak termasuk gawat darurat. Ia menawarkan untuk di cek darah utk mengetahui apakah anak terkena DB atau tidak. Agak aneh menurut sy permintaannya karena DB kalo tdk salah baru ketahuan 10 hari kejadian, selain itu anak sudah jelas panas 39 di rumah dan tangan dan jantung gemetar, namun sy turuti sj. saya mendafatar sebagai pasien umum utk cek darah (bayar 75 ribu). Setelah itu, anak di coblos untuk diambil darah, anak menjerit kesakitan! saya segera ke laborat dan hasilnya tenggorokan ada infeksi. Maka dokter umum menawarkan untuk opname. "La tadi saya kan minta opname juga"nada saya agak tinggi. Dalam hati saya, ini nantinya kan jadi di coblos dua kali (setelah ambil sempel darah lalu untuk pasang infus).
Saya lalu urus administrasi opname BPJS. lumayan cepat karena agak sepi. Biaya laborat dikembalikan karena petugas kasir tahu kalo saya berubah status dari umum ke BPJS. 
Bulan2 itu sepertinya semua rumahsakit dan puskesmas berbenah, memoles diri karena akan menghadapi akreditasi. Pelayanan di RSI A Yani tidak seperti biasanya. Perawat sangat ramah2. Saya tinggal di kamar shofa. Padahal biasanya di ruang hijir Isma'il. 
Dulu di Hijr Isma'il saya berkali-kali opname disana. Perawatnya judes-judes. terutama yang senior. Semaunya sendiri. Hampir mirip dengan di RSAL, cuman di RSAL lebih keras dan ketus, bisa jadi karena watak militernya masih melekat. Jika di RSI saya bisa memilih dokter, maka di RSAL saya tidak bisa memilih dokter untuk merawat anak saya. Di RSI proses membalut infus tangan langsung diberi penyangga kayu, di RSAL tidak. DI RSAL disuntik dulu jarumnya ditangan, selang infus terlihat dlewer karena penyangga kayu baru dipasang ketika dikamar. Di RSI proses menunggu konfirmasi kamar kosong relatif cepat (1-2 jam), di RSAL saya sampai menunggu 3-4 Jam. Perawat di UGD RSI relatif "dekat" dengan balita, di RSAL seperti ketus dan kurang berpengalaman memasang infus karena seperti masih mahasiswa/dokter muda.
Di tahun 2015 an , di RSI untuk opname wajib minimal opname selama seminggu karena untuk proses klaim BPJS mensyaratkan begitu (menurut petugas penerima pasien), sama dengan RS Bhakti Rahayu di Ketintang. Di RSAL tidak mengharuskan pasien opname salama seminggu, jadi meski 4 hari pasien sudah normal, maka boleh pulang.