Sabtu, 04 Juni 2016

Pembantu Bidan Ulfa

Bidan adalah seorang yang bertugas untuk membantu persalinan kelahiran. Dalam prakteknya, di tempat-tempat bidan ini biasanya ada calon bidan yang sedang PKL, sedang berlatih untuk menjadi bidan profesional. Di jaman sekarang semua diukur dengan uang.
Pembantu-pembantu bidan ini sering bertindak seenaknya. Entah karena gajinya sedikit atau karena memang pada dasarnya mereka pemalas.
Didalam kuitansi persalinan, terdapat biaya-biaya persalinan yang menyebutkan diantaranya : Biaya persalinan RP. 500.000,-. Saya pernah dua kali ke  bidan ini, namun berbeda tarif. Yang pertama saya mendapatkan diskon bantuan persalinan, sedangkan biaya persalinan kedua biayanya membengkak menjadi 700 ribuan. Rinciannya 500 ribu untuk Bidan ulfa, sisanya untuk pembantu bidan yang sedang praktek (biaya mencuci baju, ari-ari, dll)

Dalam prakteknya biaya 500 ribu tersebut seharusnya berimbang dengan pelayanan yang seharusnya diberikan kepada pasien. Pada kenyataanya yang melakukan persalinan, masih melibatkan pembantu bidan yang belum profesional! Bidan Ulfa memaksakan kehendak supaya pembantunya "berlatih" untuk menjahit rahim, menyuntik dan membantu persalinan inti.

Bidan ini sering merujuk pasien untuk melakukan USG di dekat terminal Joyoboyo, juga ke RS Bhakti Rahayu. Dugaan jelas mereka bekerjasama dan mendapatkan fee dari hasil rekomendasinya.

Imunisasi disini bisa dikenakan 30-40 ribu. Padahal di Puskemas imunisasi gratis!!.

Lantas kemana DINKES?

Efektifkah Lampid Surabaya ?

Saya beberapakali menggunakan aplikasi lampid. Yang pertama menggunakan untuk mendaftarkan KK anak baru. Yang kedua mendaftarkan kematian anak.
Tidak ada yang istimewa dari aplikasi ini seperti yang digembor-gemborkan media, terkecuali integrasi NIK dengan data kependudukan. Di atas kertas aplikasi ini luar biasa. Namun karena SDM (mulai RT, RW, Kelurahan yang tidak proaktif, maka aplikasi ini hanya seperti pajangan saja, hanya puji-pujian ketika ada lomba, hanya menyenangkan Bu Walikota Risma ketika ada sebuah kunjungan. Aplikasi ini tidak lebih bualan, mirip dengan sistem antrian yang dibuat untuk puskesmas di Surabaya.
Aplikasi antrian di Puskesmas bila saya coba hari ini, saya mendapatkan antrian +- 10 hari kedepan!!. Lantas apa yang tersisa dari sebuah sistem ANTRIAN ini, bila menunggu 10 hari kedepan. Selidik punya selidik, ternyata aplikasi antrian ini sudah di booking oleh petugas kecamatan selama 10 hari kedepan secara offline. Tujuannya jelas untuk memenuhi porsi offline antrian pasien yang datang langsung di Puskesmas. Sedangkan porsi online dijatah +-10 hari kedepan.. Sial!!
Kembali lagi dengan lampid. Saya sudah mendaftarkan KK baru secara online, namun sialnya ketika sampai di Kelurahan saya disuruh untuk mendatangi RT RW. Ga kebayang kan ribetnya menunggu kedatangan Bapak/Ibu RT RW yang juga sibuk dengan pekerjaan sehari-hari nya. RW saya biasanya datang di kantor setelah habis Isya' , itupun belum tentu ada! Sindiran-sindiran halus untuk mengisi kas RT RW masih saja tertanam dibenak "birokrat" kelas mini ini. 
Pernah saya mengurus surat kematian anak saya di RW, lalu saya lihat ada penduduk yang memberikan uang Rp. 10.000,- ke RW, lantas giliran saya dilayani, saya akan memasukkan ke kas RW, namun secepat kilat dia mengatakan "sini-sini, jangan masukkan ke kotak kas", sambil memasukkan amplop yang saya beri ke bawah mejanya..!! parah
Setelah memenuhi surat-surat keterangan berstempel RT RW lalu saya harus membawanya lagi ke Kelurahan. Baru disini saya dilayani secara "Online" oleh seorang honorer muda yang melek IT.


Untuk kasus pengurusan dokumen kematian, saya hampir 2 minggu tidak ada respon ketika dicek dalam status lampid seperti gambar berikut ini :

Kamis, 06 November 2014

Parkir-Parkir Liar di Surabaya

Yang saya maksud liar disini adalah parkir yang tidak menggunakan karcis resmi dan menarik dengan tarif yang tinggi. 
1- Depan telkom ketintang ada warung-warung PKL Bayangkan untuk membeli pukis seharga seribuan dalam setengah menit, kita harus membayar1000?
2- BRI wiyung pernah meminta uang Rp. 2000 utnuk sepeda motor.
3- Ayo yang mau nambah silahkan di komentar

Tabrakan

Sore ini saya mengalami kejadian yang menyedihkan. Pulang dari kantor, sehabis mengerjakan pekerjaan yang menjenuhkan, saya kelupaan kalau laptop tertinggal di kantor. Saya memutuskan untuk meninggalkan dan menelpon teman yang masih di kantor agar menyimpan laptop di sana.
Di jaln besar yang macet, saya mengambil bahu kiri jalan. Saya lirik tidak ada lampu riting yang menyala pada motor di depan saya. Saya putuskan untuk langsung mengegas sepeda saya. Sialnya, sepeda motor yang didepan saya secara tiba-tiba membelokkan ke gang disebelah kiri. Kamipun bertabrakan. Sepeda motor saya jatuh dibawah sepedanya. Lampu sein sebelah kiri saya ringsek, patah. Slebor lepas dan retak-retka sampai lampu depan hampir lepas. Totok speedometer juga retak. Pijakan kaki sebelah kiri miring ke belakang. Celana hitam saya robek sedikit di sekitar dengkul. Begitupun dia dan istri? (perempuan yang bersamanya).
Dia memulai menggertak sebelum saya berhasil menegakkan badan dan sepeda motor saya yang tertindih sepedanya. Saya masih tepaku dengan peristiwa itu. Gertakan itu rupanya membuat ciut nyali saya. Meski saya lihat orang itu masih terlihat lebih muda dari saya. Ada beberapa orang yang membantu menolong menegakkan sepeda motor saya, dan meminggirkan posisinya.
Anak itu terlihat ngotot dan berargumen bahwa dia sudah memberikan tanda riting untuk belok ke kiri sambil membuka kunci untuk menghidupkan lampu sein. Saya tidak melihat secuil pun tanda lampu ketika mau menyalipnya. Kalaupun dia memberi tanda itupun MUNGKIN cuma 2-3 kedipan saja. Saya berargumentasi bahwa 2-3 kedipan tidak cukup untuk memberi tanda berbelok. Sebab jalan begitu cepat dan sekelebat saja. Si perempuan sibuk menelpon dan meng sms , entah siapa. Dia menggertak untuk membwanya ke polisi. Saya menyanggupinya, namun sepertinya nyalinya keder juga setelah saya membuka slayer yang menutupi hidung-mulut saya.Perdebatan berlangsung seperti anak kecil. Saya berusaha untuk mengalah dan lebih bijaksana sambil membaca wirid-wirid, saya memohonnya dengan halus untuk membantu mengganti onderdil sepeda saya yang rusak. Dia dengan tegas menolak. Padahal dia lecet sama seperti saya lecet. Perbedaanyya adalah kondisi sepeda dia tidak ada kerusakan yang berarti kecuali seng plat nomor yang bengkok. Di luruskan dengan tanganpun bisa.
Mereka ingin beranjak pergi untuk menaiki sepeda motornya, dan saya meminta untuk kesekian kalinya supaya dia bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun dia malah mengegas motornya dengan keras. Saya pun mendorong kepalanya, dia pun mengumpat sambil meneruskan perjalanannya.

Ini adalah kali kedua kecelekaan yang pernah saya salami, setelah sebelumnya saya menabrak orang tua dengan kasus yang sama, yaitu "telat menghidupkan lampu riting". Kejadian pertama relativ damai, karena kami sudah saling memaafkan dan legowo.

Hikmah:
Terkadang kalau kita terlalu lembek dimata orang, kita malah ditindas dan diinjak-injak.

Saya berfikir, sepertinya ini memang waktunya untuk membeli kamera cctv untuk sepeda saya.